2 Langkah Mudah Menyusun Materi Esensial Dalam Kurikulum 2022

 

Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran tersebut harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik.

Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta tercapainya indikator. Materi pembelajaran dipilih seoptimal mungkin untuk membantu peserta didik dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar.


Pengertian Materi esensial dalam Kurikulum 2022

Materi esesial menjadi syarat penting dalam pelaksanaan pembelajaran di Kurikulum 2022. Materi esensial dalam Kurikulum 2022 telah  dijelaskan oleh MendikbudRistek saat mensosialisasi mengenai Kurikulum 2022.

Materi esensial dalam Kurikulum 2022 adalah Pembelajaran yang mendalam (diskusi, kerja kelompok, pembelajaran berbasis problem dan projek, dll.) perlu waktu.  Karena materi yang terlalu padat akan mendorong guru untuk menggunakan ceramah satu arah atau metode lain yang efisien dalam mengejar ketuntasan penyampaian materi. Kurikulum prototipe berfokus pada materi esensial di tiap mata pelajaran, untuk memberi ruang/waktu bagi pengembangan kompetensi -terutama kompetensi mendasar seperti literasi dan numerasi – secara lebih mendalam.

Sebelumnya, Kemendikbud telah menginstruksi para pendidiknya melakukan analisis KD esensial pada silabus masing-masing bidang dengan  esuai isi Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Kepmendikbud No 719/P Tahun 2020 yang landasan hukum. Tujuannya untuk memberikan fleksibilitas pada satuan pendidikan untuk menentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik.

Langkah-Langkah Menyusun Materi Esensial Dalam Kurikulum 2022

Agar memudahkan guru menganalisis materi esensial dalam Kurikulum 2022, terdapat 2 langkah besar yang dapat mudah diterapkan oleh guru. Sebagai berikut.

1. Identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar

Penyederhanaan Kurikulum dapat dilakukan secara mandiri dengan dasar dan pertimbangan; prinsip (mudah diajarkan, mudah dipelajari, dan mudah dilaksanakan/diaplikasikan), kriteria (penting, relevan, keterpakaian tinggi), prioritas (KD prasyarat, kd bebas atau pararel yang keterpakainnya tinggi, KD kompleks/bersyarat. Selain itu, agar KD pada silabus bidang studi relevan dengan kondisi saat ini, seperti Covid-19 yang melanda Indonesia dan sampai saat ini masih terus berlangsung.

Analisis KD esensial pada silabus dapat dilakukan secara mandiri dengan mengacu pada kriteria urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian (UKRK).

1.      Urgensi bermakna penting atau mendesak. Artinya, bahwa KD tertentu dianggap lebih penting dan mendesak untuk dipelajari dibanding dengan KD yang lainnya Khususnya di masa pandemic Covid-19 atau PTM Terbatas saat ini

2.      Kontinuitas bermakna penyederhanaan silabus di masa pandemi dengan analisis UKRK tidak hanya membuang atau mempertahankan KD saja. Akan tetapi, dapat menggabungkan atau mengintegrasikan satu KD dengan KD lainnya yang dianggap memiliki kesamaan atau merupakan materi adalah kelanjutan. Kontinuitas juga bermakna bahwa materi pada KD tersebut dipelajari lagi secara lebih mendalam dan rinci pada KD selanjutnya.

3.      Selanjutnya, relevansi, yang berarti berhubungan satu sama lain. Relevansi ini bisa ditinjau dari dua hal, pertama materi pada KD tertentu berhubungan dengan materi pada KD lainnya. Kedua, materi pada KD tertentu berhubungan dengan materi pada mata pelajaran lainnya.

4.      Kriteria terakhir dalam menentukan KD esensial adalah Keterpakaian.  Keterpakaian bermakna, materi pada KD tersebut memiliki tingkat keterpakaian yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari peserta didik khususnya di masa pandemi Covid-19 atau PTM Terbatas ini. Disadari bahwa dari sekian jumlah KD yang dipelajari, tingkat keterpakaian dalam kehidupan sehari-hari beragam. Ada KD yang materinya memang mempelajari tentang kehidupan siswa dan lingkungannnya (sangat aplikatif) dan ada pula materi pada KD tertentu kurang aplikatif (lebih teoritis).

Sebagai contohnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini, terdapat kolom KI dan KD, kriteria urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian (UKRK) dan keterangan menyebut “E” (esensial) dan “TE” (tidak esensial)

2. Identifikasi Jenis-jenis Materi Pembelajaran

Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi pembelajaran dengan tingkatan aktivitas/ranah pembelajarannya.  Hal-hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pemilihan materi pembelajaran adalah jenis, cakupan, urutan, dan perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran tersebut. Jenis-jenis materi pembelajaran dapat diklasifikasi sebagai berikut.

1.    Fakta yaitu segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama komponen suatu benda, dan sebagainya. Contoh dalam mata pelajaran Sejarah: Peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 dan pembentukan Pemerintahan Indonesia.

2.    Konsep yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti /isi dan sebagainya. Contoh, dalam mata pelajaran Biologi: Hutan hujan tropis di Indonesia sebagai sumber plasma nutfah, Usaha-usaha pelestarian keanekargaman hayati Indonesia secara in-situ dan ex-situ, dsb.

3.    Prinsip yaitu berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antarkonsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat. Contoh, dalam mata pelajaran Fisika: Hukum Newton tentang gerak, Hukum 1 Newton, Hukum 2 Newton, Hukum 3 Newton, Gesekan Statis dan Gesekan Kinetis, dan sebagainya.

4.    Prosedur merupakan langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. Contoh, dalam mata pelajaran TIK: Langkah-langkah mengakses internet, trik dan strategi penggunaan Web Browser dan Search Engine, dan sebagainya.

5.    Sikap atau Nilai merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar dan bekerja, dsb. Contoh, dalam mata pelajaran Geografi: Pemanfaatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, yaitu pengertian lingkungan, komponen ekosistem, lingkungan hidup sebagai sumberdaya, pembangunan berkelanjutan.


Strategi Penyampaian Jenis-Jenis Materi

Secara garis besar, langkah-langkah menyampaikan materi pembelajaran sangat bergantung kepada jenis materi yang akan disajikan. Langkah-langkah dan strategi yang dijabarkan dalam panduan ini adalah masih dalam taraf minimal. Pengembangannya, diserahkan pada kreativitas guru, sepanjang tidak menyalahi kaidah-kaidah yang ada.

1.   Strategi Penyampaian Fakta

     Jika guru harus manyajikan materi pembelajaran jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dan sebagainya).

     Langkah membelajarkan materi pembelajaran jenis Fakta adalah: a. Sajikan fakta Bahan Ajar Perencanaan Pembelajaran. b. Berikan bantuan untuk materi yang harus dihafal c. Berikan soal-soal mengingat kembali (review) d. Berikan umpan balik e. Berikan tes.

2. Strategi penyampaian konsep

     Materi pembelajaran jenis konsep adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar peserta didik paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan, menggeneralisasi dan sebagainya.

     Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis Konsep adalah sebagai berikut: a. Sajikan Konsep b. Berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan contoh) c. Berikan soal-soal latihan dan tugas d. Berikan umpanbalik e. Berikan tes.

3. Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip

     Termasuk materi pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, hukum (law), postulat, teorema, dan sebagainya.

     Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis prinsip adalah: a. Berikan prinsip b. Berikan bantuan berupa contoh penerapan prinsip c. Berikan soal-soal latihan d. Berikan umpan balik e. Berikan tes.

4. Strategi Penyampaian Prosedur

     Tujuan mempelajari prosedur adalah agar peserta didik dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal. Termasuk materi pembelajaran jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas secara urut. Misalnya langkah menghidupkan televisi, menghidupkan dan mematikan komputer.

     Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi: a. menyajikan prosedur b. pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana cara melaksanakan prosedur c. memberikan latihan (praktik) d. memberikan umpanbalik e. memberikan tes

5. Strategi penyampaian materi aspek sikap (afektif)

     Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) menurut Bloom (1978) adalah pemberian respons, penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan penilaian.

     Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain: penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi, penyampaian ajaran atau dogma. Misalnya pada mata pelajaran Sosiologi yang memberikan contoh peran nilai dan norma dalam masyarakat.

            Strategi Penciptaan Kondisi: Agar memiliki sikap normatif dalam kehidupan bermasyarakat, di depan loket dipasang jalur untuk antre berupa pagar besi yang           hanya dapat dilalui seorang demi seorang secara bergiliran. Strategi Pemodelan        atau Contoh: Disajikan contoh atau model seseorang yang tidak memiliki sikap            normatif, yaitu seseorang yang tidak mau tertib dalam antrean.

Sumber: e-guru.id

Dapatkan sertifikat pelatihan Kurikulum Paradigma Baru dengan mendaftar jadi member pada link ini: https://e-guru.id/member/s/vfl6g7n

 

Share:

Desian Pembelajaran dalam Penerapan Kurikulum Prototipe 2022

 


Persiapan penuh perlu dipersiapkan guru di Indonesia demi bisa mencerna semua aspek yang yang terkandung dalam kurikulum prototipe 2022. 

Mungkin memang sekarang yang baru melakukan kurikulum ini adalah dari program sekolah penggerak. Program sekolah penggerak ini merupakan wadah bagi kurikulum prototipe untuk diujicobakan. Sehingga nantinya pasti akan ada evaluasi yang menyebabkan revisi-revisi hingga kurikulumnya nanti digunakan secara massal. 

Ada banyak istilah baru yang sebenarnya merupakan bentuk penyerdehanaan dari pembelajaran sebelumnya. Misalnya seperti Kompetensi Inti dan Kompetensi dasar yang diubah namanya menjadi Capaian Pembelajaran. Lalu banyak hal lainnya juga yang menjadi penting untuk disimak agar guru bisa lebih maksimal dalam pengaplikasiannya.

Desain Pembelajaran Kurikulum Prototipe

Ada empat tahapan dalam desain pembelajaran kurikulum prototipe 2022 ini. Sebelumnya kita mengenal Kompetensi Inti dan Konpetensi dasar, lalu ada indikator dan lain sebagainya. Lalu di dalam kurikulum baru ini konsepnya menjadi sedikit berbeda karena penamaannya pun berubah dan lebih disederhanakan lagi. Berikut empat tahapan desain pembelajaran kurikulum prototipe:

·         Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran atau yang nanti dikenal CP merupakan kompetensi pembelajaran yang ditetapkan oleh pemerintah. Capaian pembelajaran ini jika dikomparasi maka perannya sama dengan KI dan KD di K13. Capaian pembelajaran ini disusun secara sistematis dan disesuaikan berdasarkan fase. 

 Fase yang dimaksud ini merupakan fase pendidikan dan sudah dibagi ke dalam enam bagian. Ada fase A yang meliputi siswa SD kelas satu dan dua. Lalu fase B terdiri dari siswa SD kelas tiga dan empat, dan fase C untuk siswa SD kelas lima dan enam. Khusus untuk fase D ini langsung mencakup jenjang SMP dari kelas tujuh hingga sembilan. Ada porsi khusus dalam fase E untuk SMA kelas sepuluh, dan terakhir fase F untuk kelas sebelas dan duabelas. 

·           Tujuan Pembelajaran 

       Tujuan pembelajaran ini kurang lebih sama dengan konsep dari K13 yaitu merupakan jabaran kompetensi yang akan dicapai oleh siswa. Tujuan pembelajaran ini biasanya akan beragam sesuai dengan jenjang dan materi yang akan diajarkan. Maka dari itu tujuan ini pasti nantinya disesuaikan dengan guru yang akan mengajarkannya. 

·         Alur Tujuan Pembelajaran

Alur tujuan pembelajaran ini sesuai dengan namanya yaitu sebuah alur sistematis rencana studi dari awal hingga akhir. Hal ini nantinya akan mengikuti CP yang disesuaikan dengan fase siswanya. 

·         Modul Ajar

Modul ajar merupakan seperangkat alat dan bahan untuk mengajar yang sudah disesuaikan dengan aspek lainnya dalam desian pembelajaran kurikulum prototipe. Dalam modul ajar ini tentu saja menjadi banyak perbedaan dengan K13 sebelumnya sebab ada beberapa aspek tambahan yang membuat guru perlu menyiapkannya dengan sistematis dan menarik. 

Desain pembelajaran untuk penerapan kurikulum prototipe ini telah mengalami penyederhanaan yang begitu signifikan dari K13. Maka dari itu para guru dan sekolah perlu mengkaji ulang serta mendalaminya agar bisa terlaksana secara maksimal. Selain itu juga perlu diperhatikan bahwa CP yang digunakan itu berdasarkan keenam fase di atas, jadi pembelajarannya pasti akan bervariasi untuk setiap fasenya. 

Sumber: e-guru.id

Dapatkan sertifikat pelatihan Kurikulum Paradigma Baru dengan mendaftar jadi member pada link ini: https://e-guru.id/member/s/vfl6g7n

Share:

Panduan Lengkap Modul Ajar dalam Kurikulum 2022

 


Pada kurikulum 2022 atau yang dikenal kurikulum prototipe ini terdapat beberapa perubahan khususnya pada lingkup pembelajaran. Beberapa diantaranya seperti tidak adanya KI KD, tidak ada KKM, perubahan beban waktu belajar dan materi pembelajaran difokuskan menjadi materi esensial. Perubahan lainnya dalam lingkup pembelajaran adalah guru tidak diwajibkan membuat RPP. Dalam kurikulum 2022, guru tidak diwajibkan membuat RPP namun guru harus membuat modul ajar.

Modul Ajar bisa dianggap seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), namun dilengkapi dengan berbagai materi pembelajaran, lembar aktivitas siswa, dan asesmen untuk mengecek apakah tujuan pembelajaran dicapai siswa.

Konsep Modul Ajar

Agar tidak terjadi kesalapahaman, guru perlu mengetahui konsep modul ajar. Berikut ini konsep Modul Ajar antara lain:

1.      Modul ajar adalah sejumlah alat atau sarana media, metode, petunjuk, dan pedoman yang dirancang secara sistematis dan menarik.

2.      Modul ajar merupakan implementasi dari Alur Tujuan Pembelajaran yang dikembangkan dari Capaian Pembelajaran dengan Profil Pelajar Pancasila sebagai sasaran.

3.      Modul ajar disusun sesuai dengan fase atau tahap perkembangan peserta didik, mempertimbangkan apa yang akan dipelajari dengan tujuan pembelajaran, dan berbasis perkembangan jangka panjang.

4.      Guru perlu memahami konsep mengenai modul ajar agar proses pembelajaran lebih menarik dan bermakna.

Prinsip-prinsip Penyusunan Modul Ajar

Dalam menyusun modul ajar agar efektif dan efesien perlu untuk mengetahui prinsip-prinsip penyusunan Modul Ajar. Prinsip-prinsip penyusunan perlu memperhatikan pendekatan melalui tahap perkembangan dan perlu memperhitungkan beberapa hal diantaranya

1.      Karakteristik, kompetensi dan minat peserta didik di setiap fase.

2.      Perbedaan tingkat pemahaman, dan variasi jarak (gap) antar tingkat kompetensi yang bisa terjadi di setiap fase.

3.      Melihat dari sudut pandang pelajar, bahwa setiap peserta didik itu unik.

4.      Bahwa belajar harus berimbang antara intelektual, sosial, dan personal dan semua hal tersebut adalah penting dan saling berhubungan.

5.      Tingkat kematangan setiap peserta didik tergantung dari tahap perkembangan yang dilalui oleh seorang peserta didik, dan merupakan dampak dari pengalaman sebelumnya.

Kriteria dalam penyusunan Modul Ajar

Dalam penyusunan modul ajar juga perlu memperhatikan kriteria berikut ini, agar modul ajar sesuai standar atau tidak menyeleweng dari lainnya.

1.      Esensial: Pemahaman konsep dari setiap mata pelajaran melalui pengalaman belajar dan lintas disiplin.

2.      Menarik, Bermakna, dan Menantang: Menumbuhkan minat untuk belajar dan melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses belajar, berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya, sehingga tidak terlalu kompleks, namun juga tidak terlalu mudah untuk tahap usianya.

3.      Relevan dan konseptual: Berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya, dan sesuai dengan konteks di waktu dan tempat peserta didik berada.

4.      Berkesinambungan: Keterkaitan alur kegiatan pembelajaran sesuai dengan fase belajar peserta didik.


Komponen-Komponen Penyusunan dan Pengembangan Modul Ajar

Guru dalam satuan pendidikan diberi kebebasan untuk mengembangkan modul ajar sesuai dengan konteks lingkungan dan kebutuhan belajar peserta didik. Modul ajar dilengkapi dengan komponen yang menjadi dasar dalam proses penyusunan. Komponen modul ajar dalam panduan dibutuhkan untuk kelengkapan persiapan pembelajaran.  Komponen modul ajar bisa ditambahkan sesuai dengan mata pelajaran dan kebutuhan.

Tidak semua komponen wajib tercantum dalam modul ajar yang dikembangkan oleh pendidik. Pendidik di satuan pendidikan diberi kebebasan untuk mengembangkan  komponen dalam modul ajar sesuai dengan konteks lingkungan dan kebutuhan belajar peserta didik.

1. Informasi Umum

1.      Identitas penulis modul

2.      Kompetensi awal

3.      Profil Pelajar Pancasila

4.      Sarana dan prasarana

5.      Target peserta didik


2. Komponen Inti

1.      Tujuan pembelajaran

2.      Pemahaman permakna

3.      Pertanyaan pemantik

4.      Kegiatan pembelajaran

5.      Asesmen

6.      Pengayaan dan remedial

7.      Refleksi peserta didik dan guru.


3. Komponen lampiran

1.      Lembar Kerja Peserta Didik

2.      Bahan bacan guru dan peserta didik

3.      Glosarium

4.      Daftar pustaka


Langkah-langkah Penyusunan dan Pengembangan Modul Ajar

Untuk membuat Modul Ajar, guru perlu mempersiapkan apa saja yang perlu dilakukan dalam penyusunan modul ajar dengan mengikuti beberapa langkah dalam penyusunan modul ajar. Setelah itu, guru mengikuti cara atau strategi dalam pengembangan modul ajar dengan memilih salah satu cara yang dapat diikuti oleh pendidik.

1. Langkah-Langkah Dalam Penyusunan Modul Ajar (Perencanaan)

Langkah-langkah dalam penyusunan Modul Ajar berisi mengenai perencanaan atau persiapaan yang perlu dilakukan guru saat akan membuat modul ajar. Berikut ini Enam langkah-langkah/prosedur yang harus ditempuh dalam penyusunan Modul Ajar antara lain:

a. Analisis kondisi dan kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan

Guru perlu mengetahui kondisi dan kebutuhan peserta didik berdasarkan latar belakang serta sarana dan prasarana sekolah.  Pengembangan modul ajar disesuaikan dengan kemampuan dan kreatifitas guru.

b. Identifikasi dan tentukan dimensi Profil Pelajar Pancasila.

Guru memilih dimensi Profil Pelajar Pancasila yang paling memungkinkan untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran.

c. Tentukan Alur Tujuan Pembelajaran yang akan dikembangkan menjadi Modul Ajar

Guru dapat memilih Alur Tujuan Pembelajaran yang dikembangkan oleh sekolah atau mengacu pada Alur Tujuan Pembelajaran yang ada.

d. Susun Modul Ajar berdasarkan komponen yang tersedia

Selain komponen inti, guru dapat memilih komponen sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

e. Pelaksanaan pembelajaran

Guru melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan Modul Ajar yang telah disusun.

f. Tindak lanjut

Setelah guru melakukan pembelajaran, guru melakukan evaluasi efektifitas modul ajar dan tindak lanjut untuk pembelajaran berikutnya. 


2. Langkah-langkah Mengembangkan Modul Ajar (Pelaksanaan)

Sedangkan, langkah pengembangan modul ajar bertujuan untuk memudahkan guru dalam proses pembuatan modul ajar setelah merencanakan atau mempersiapkan apa saja ya perlu dilakukan dalam penyusunan modul ajar. Dalam hal ini guru hanya perlu memilih salah satu cara atau strategi yang dianggap mudah dan sesuai kebutuhan.

1. Cara atau Strategi Pertama

Langkah-langkah mengembangkan Modul Ajar

1.      Mengidentifikasi tujuan pembelajaran yang bisa dikelompokkan dalam satu lingkup materi. Satu Modul Ajar bisa mencakup beberapa tujuan pembelajaran.

2.      Lakukan asesmen diagnosis mengidentifikasi penguasaan kompetensi awal peserta didik.

3.      Tentukan teknik dan instrumen asesmen sumatif beserta indikator keberhasilan asesmen sumatif yang akan dilakukan pada akhir lingkup materi.

4.      Tentukan periode waktu atau jumlah JP yang dibutuhkan.

5.      Tentukan teknik dan instrumen asesmen formatif berdasarkan aktivitas pembelajaran.

6.      Buat rangkaian kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir.

7.      Pastikan aktivitas pembelajaran selaras dengan tujuan pembelajaran.

8.      Setiap kegiatan dilengkapi dengan pemahaman, bermakna dan pertanyaan esensial yang menjadi acuan.

9.      Persiapkan lembar belajar, materi belajar, dan media belajar sesuai dengan kesiapan, minat, dan profil belajar peserta didik.

10.  Lampirkan instrumen asesmen seperti ceklis, rubrik atau lembar observasi yang dibutuhkan.

11.  Periksa kembali kelengkapan komponen modul ajar.

2. Cara atau Strategi Kedua

1.      Menganalisis kondisi dan kebutuhan peserta didik, pendidik, serta satuan Pendidikan

2.      Melakukan asesmen diagnostik terhadap kondisi dan kebutuhan peserta didik.

3.      Mengidentifikasi dan menentukan dimensi Profil Pelajar Pancasila yang akan dicapai.

4.      Memilih tujuan pembelajaran dari ATP (Alur Tujuan Pembelajaran) berdasarkan CP (Capaian Pembelajaran) yang akan dikembangkan menjadi modul ajar.

5.      Merencanakan jenis,teknik dan instrument asesmen.

6.      Menyusun modul ajar berdasarkan komponen-komponen yang ditentukan.

7.      Pendidik dapat menentukan komponen-komponen yang esensial sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

8.      Mengelaborasi kegiatan pembelajaran sesuai dengan komponen esensial.

9.      Modul siap digunakan

10.  Evaluasi dan Pengembangan Modul

 

Contoh-Contoh Modul Ajar

>> Contoh Modul Ajar 1 <<

>> Contoh Modul Ajar 2 <<

>> Contoh Modul Ajar 3 <<

 Sumber: e-guru.id

Dapatkan sertifikat pelatihan Kurikulum Paradigma Baru dengan mendaftar jadi member pada link ini: https://e-guru.id/member/s/vfl6g7n


Share:
SELAMAT DATANG DI BLOG GURU SOSIOLOGI SMA NEGERI 1 BITUNG

Pengunjung